Sejarah

Sejarah Pondok Pesantren Al Ma’arif

Al-Ma’arif bermakna pengetahuan yang luas atau ladang pegetahuan, yang diharapkan menjadi tempat persemaian kader muda muslim yang bersaing dalam kehidupan global.

Pondok Pesantren Al-Ma’arif didirikan atas dasar ibadah untuk memperluas medan perjuangan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Pesantren ini berdiri di bawah naungan Yayasan Manabi’ul Ma’arif Al-Islamiyah (MMI) yang digagas pada tahun 2002 M. Sementara awal program pendidikan berbasis pesantren di mulai dari tahun 2007 M.

Berangkat dari niat ibadah kepada Allah SWT, lembaga pendidikan ini mengemban misi untuk mencetak generasi yang bermutu dalam iman, takwa, akhlak dan pengetahuan. Karena, secara terminologi, Al-Ma’arif sendiri bermakna pengetahuan yang luas atau ladang pegetahuan yang diharapkan menjadi tempat persemaian kader muda muslim yang bersaing dalam kehidupan global.

Pondok Pesantren Al-Ma’arif berawal dari kiprah seorang Edi Sumardi, warga asli Desa Songgom Jaya, Cikande. Beliau adalah alumnus pertama Pondok Pesantren Daar El-Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang (Tahun 1968-1974 M.) di bawah pimpinan K.H. Ahmad Rifa’I Arief. Masa kecil beliau dihabiskan di lingkungan pesantren hingga pengabdian sampai pada tahun 2002 sesuai dengan permintaan gurunya.

Kebersamaan Edi Sumardi dengan K.H. Ahmad Rifa’i Arief bukanah hanya sebatas hubungan antara murid dan guru, melainkan bagaikan anak dan orang tuanya. Ilmu, nasihat, motivasi dan pengalaman hidup sudah banyak diresapi oleh Edi Sumardi dari Pendiri Pondok Pesantren Daar El-Qolam tersebut. Tak terasa bahwa waktu sudah berlalu selama ± 34 tahun, Sang Guru harus kembali ke pangkuan Ilahi. Satu pesan guru yang masih terngiang dalam benak Edi Sumardi ketika beliau bersilaturahim setelah pulangnya H. Edi Sumardi dari Tanah Suci, “Kamu sekarang sudah haji, alangkah sempurnanya jika kamu mengajar ngaji”, Ujar Kyai Rifa’I yang akrab disapa dengan Ust. Lilip. “Bukankah sekarang sedang ngajar ngaji?”, jawab Edi Sumardi kala itu. Jawab tegas seorang kyai muda, “Tingkatkan fasilitas dan sistem pengajarannya”, Lanjut Kyai Rifa’I menegaskan. Bagi Edi Sumardi, pesan tersebut adalah do’a yang penuh dengan keberkahan untuk mendirikan sebuah pesantren yang belum pernah terbesit olehnya. Oleh sebab itu, nama pesantren ini selain karena bermakna sebagai ladang pengetahuan, juga merupakan akronim dari Sumardi yang sering disapa ‘Mar” oleh kyainya dan ‘Rif’ yang merupakan akhir dari nama kyainya (Ma’arif).

Awalnya, Pondok Pesantren Al-Ma’arif hanya berdiri di atas ladang seluas 730 m2. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, tak menyurutkan niat dan tekad yang telahh ditancapkan demi terwujudnya do’a Sang Kyai yang dicintainya. Pesan singkat yang pernah terucap seakan-akan menjadi energi tersendiri dalam setiap langkah perkembangan pesantren.

Pada tahun 2003, Pondok Pesantren Al-Ma’arif mendapatkan bantuan wakaf seluas 1600 m2 dari teman seperjuangannya K.H. Endin Syahiduddin dan Ustadzah Dra. Hj. Enah Huwaenah. Keduanya adalah Pengasuh Pondok Pesantren Daar El-Qolam, yang tidak lain adalah adik kandung dari K.H. Ahmad Rifa’I Arief, anak dari H. Qasad Mansur.

Perjalanan pendidikannya yang telah menempuh jarak 15 tahun dan 12 tahun khusus pesantren, kini Al-Ma’arif masih tetap bertahan dengan izinnya dengan jumlah santri sebanyak ±600 santri (mukim dan non-mukim) telah menjadi semangat tersendiri untuk terus melangkah kedepan, mengibarkan panji-panji pendidikan yang berkarakter Islami.

Start Learning to Drive Today

Give us a call to schedule your first driving lesson

  • 1-800-555-555

Sign up to our Newsletter

    (We do not share your data with anybody, and only use it for its intended purpose)